Tampilkan postingan dengan label Medical. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Medical. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Oktober 2011

Perawatan Antenatal

Perawatan Ante Natal (PAN) adalah pemeriksaan yang sistematik dan teliti pada ibu hamil dan perkembangan / pertumbuhan janin dalam kandungannya serta penanganan ibu hamil dan bayinya saat dilahirkan dalam kondisi yang terbaik. Pembahasan Perawatan Antenatal ( Antenatal Care ) oleh T.M Hanafiah dalam buku Ilmu Kedokteran Fetomaternal dapat dipelajari berikut ini :)




PERAWATAN  ANTENATAL
                                 T.M. Hanafiah
 



Perawatan Ante Natal (PAN) adalah pemeriksaan yang sistematik dan teliti pada ibu hamil dan perkembangan / pertumbuhan janin dalam kandungannya serta  penanganan ibu hamil dan bayinya saat dilahirkan dalam kondisi yang terbaik.

TUJUAN PAN

·      Untuk dapat mendeteksi / mengoreksi / menatalaksanakan / mengobati / sedini mungkin segala kelainan yang terdapat pada ibu dan janinnya ;
·      Untuk mempersiapkan ibu hamil baik fisik maupun mental dalam menghadapi kehamilan, persalinan, nifas dan masa menyusui ;
·      Dapat mencegah masalah kesehatan yang beresiko dan dapat menjaring kasus kehamilan resiko tinggi (KRT) dan non KRT (normal) ;
Sehingga kita dapat menghilangkan / menurunkan angka kesakitan / kematian ibu dan janin serta untuk memperoleh ibu / janin yang sehat fisik  maupun mental secara optimal.

FUNGSI PAN


I. Untuk dapat mendeteksi / mengoreksi / menatalaksanakan / mengobati / sedini mungkin segala kelainan yang terdapat pada ibu dan janinnya, dilakukan pemeriksaan fisik diagnostik mulai dari anamnese yang teliti sampai dapat ditegakkan diagnosa diferensial dan diagnosa sementara beserta prognosanya, sehingga dapat memilah apakah ibu ini dan janinnya tergolong KRT / non KRT dan apakah perlu segera dirawat untuk pertolongan selanjutnya, sehingga didapatkan hasil ibu dan anak sehat fisik serta mental yang optimal.

I.1. Anamnese dimulai dari : anamnese pribadi : nama, umur, pendidikan, suku/ bangsa, pendapatan perbulan, alamat (nomor telefon) , baik ibu maupun suaminya. Dari anamnese pribadi dapat diambil sesuatu mengenai nilai sosial, budaya, ekonomi, agama dan lingkungannya, yang dapat mempengaruhi kondisi ibu dan keluarganya. Dari lingkungan, misalnya tempat tinggal (daerah kumuh/miskin), kita dapat diketahui / diprediksi apakah ibu ini tergolong KRT non KRT.
Anamnese keluhan utama dan keluhan tambahan ditanyakan, kemudian ditelaah anamnese utama tersebut lebih rinci beserta keluhan sampingannya. Juga dianamnese mengenai riwayat hamil muda, apakah ada pening, mual, muntah, hipersalivasi (emesis gravidarum) dan  hiperemesis gravidarum.
Riwayat hamil yang sekarang, apakah ada mual, muntah, hipersalivasi, bagaimana dengan nafsu makan, miksi, defekasi, tidur, apakah ada trauma abdomen. Dianamnese riwayat perkawinan pertama, kedua atau ketiga. Anamnese mengenai riwayat persalinan sebelumnya, G.P.Ab. dan bagaimana proses persalinannya, apakah spontan atau operatif obstetri, apakah pernah abortus, partus immaturus, prematurus sebelumnya. Kemudian apakah anaknya masih hidup sampai sekarang, atau meninggal disebabkan penyakit apa, apakah pernah melahirkan anak kembar, kelainan kongenital (cacad bawaan), dan lain-lain, sehingga kita dapat menyimpulkan apakah ibu tergolong dalam Bad Obstetrics History (BOH) / riwayat obstetri yang jelek.
Anamnese mengenai haid, banyaknya, lamanya, apakah ada dismenorea, fluor albus, pruritus vulvae, kapan hari pertama haid terakhir, sehingga kita dapat menentukan taksiran tanggal persalinannya (TTP).
Anamnese mengenai penyakit-penyakit yang pernah diderita sebelum dan selama hamil ini Apakah pernah DM, Tifus, Hepatitis, HIV, Sifilis, Herpes Genitalia (VDs lain), Rubella, sakit Jantung, sakit Paru, sakit Ginjal, sakit Tiroid, Anemia, apakah ibu ini perokok, alkoholism dan obat-obatan terutama narkoba, dan lain-lain.

I.2. Pemeriksaan Status Presens : Sensorium, KU/KP/KG, nadi, TD, Pernafasan, Cyanose, Dyspnoe, suhu, anemis, turgor, refleks (APR, KPR : ki-ka) berat badan, tinggi badan. Bila ada tanda-tanda kedaruratan, maka ibu segera dikirim ke ruang rawat inap untuk penanganan selanjutnya.

I.3. Pemeriksaan status lokalis : kepala : muka, cloasma gravidarum, mulut : gigi (apakah ada caries), tonsil / faring (apakah ada tonsilitis / faringitis) ; hal ini perlu diperhatikan karena merupakan infeksi fokal yang dapat menyebabkan gangguan pada ibu hamil dan janinnya yang lebih serius ; pemeriksaan mata, kuping, hidung, rambut, dan lain-lain.
      Leher : apakah ada kelainan kelenjar tiroid dan pembengkakan di leher. Dada : apakah bentuknya simetris atau asimetris, payudara (membesar, colostrum, hiperpigmentasi) ada atau tidak . Ada pembengkakan tumor pada payudara.atau tidak. Ketiak, ada pembengkakan/kelainan atau tidak.
Keadaan jantung dan paru, apakah ada kelainan atau tidak. Bila ada, perlu pemeriksaan yang lebih teliti dan spesifik, kita konsulkan ke Bagian Penyakit Dalam.
Pemeriksaan perut, simetris atau asimetris, soepel atau tidak, hepar/lien teraba atau tidak, adanya strieae, alba/gresia, cacat bekas operasi ada atau tidak.
Pemeriksaan  Obstetrik Leopold I menentukan (tinggi fundus uteri), L-II (punggung janin), L-III (bagian bawah janin) dan L-IV (berapa jauh masuknya ke PAP). Kita mendeteksi denyut jantung janin di bahagian punggung janin yang telah kita tentukan diatas. Menentukan taksiran berat badan janin dengan formula Johnson-T (Mc Donald Line = garis simfisis ke fundus uteri) kurang 13 / 12 / 11 sesuai dengan turunnya kepala dikali 155 gram dan dapat juga menentukan berat badan janin secara palpasi atau dengan USG.
Pemeriksaan genitalia eksterna, dan kalau perlu melakukan pemeriksaan dalam (kalau tidak ada kontra indikasi seperti dugaan plasenta previa) untuk mengetahui keadaan panggul dan turunnya bagian bawah anak, apakah dalam keadaan inpartu, dan lain sebagainya.
Pemeriksaan ekstremitas superior, inferior, refleks, biseps, triseps dan APR KPR normal atau patologis.
Pemeriksaan penunjang, laboratorium (darah, urin, feses) rutin, bila ada indikasi kita dapat melakukan pemeriksaan skrining untuk Sifilis, Triponema Pallidum, VDRL, HIV. Fetal anomalies dengan amniosintesis, USG (dapat mengetahui kelainan kongenital, jumlah air ketuban, posisi anak, keadaan plasenta, dan lain-lain). Skrining untuk infeksi saluran kencing dan penyakit hubungan seksual. pemeriksaan radiologi, kardiotokografi, amnioskopi, dan pemeriksaan penunjang lain.

Dari seluruh pemeriksaan diatas, dapat dibuat kesimpulan untuk menegakkan diagnosa diferensial dan diagnosa sementara. Kemudian dapat melakukan penyaringan pasien apakah termasuk golongan KRT atau normal, atau perlu segera rawat inap atas indikasi ibu dan anak. Kemudian dapat diberikan terapi terhadap keluhan sampingan seperti batuk, pilek, demam, dan memberikan nasehat-nasehat mengenai kehamilan, persalinan dan nifas serta masa menyusui.

II. Untuk mempersiapkan fisik dalam memghadapi kehamilan, persalinan dan nifas, perlu komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) seperti :

II.1. Gizi yang baik, empat sehat lima sempurna terutama high calory protein diet (susu, air tahu), kemudian pemberian preparat Fe (zat besi), vitamin, mineral. Diberikan KIE cara penyediaan, memasak makanan dan dosis perhari. Protein dibutuhkan 60 sampai 80 gram perhari. Sayur-sayuran yang berwarna hijau yang banyak mengandung asam folat seperti bayam, buah-buahan segar, kulit, hati dan ragi. Idealnya kalori yang dibutuhkan perhari : 2500 – 3500 kCal, 1 gram Kalsium, dan asam folat sebanyak 500 mg.
       Dinasehatkan ibu makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang artinya jangan makan terlalu kenyang  kalau ada lauk yang enak dan jangan makan terlambat karena mukin tidak ada nafsu makan atau lauknya tidak enak sehingga perut telah masuk angin dan terasa menyesak karena lambung yang penuh oleh makanan atau udara.
      
Kebutuhan diet semasa hamil dan menyusui yang dianjurkan (Pocket Consultant Obstetrics, Stirrat,GM, Maruzen Asian Edition, 1982,  hal 99)


Hamil
Menyusui
KCal
2400
2750
Megajoules
100
115
Protein (gram)
60
69
Kalsium (mg)
1200
1200
Besi (mg)
13
15
Asam folat (mg)
500
400
Vitamin A (mg)
750
1200
Thiamine (mg)
10
1,1
Riboflavin (mg)
16
1,8
Asam nicotinic (mg)
18
21
Vitamin D (mg)
10
10


II.2. Senam Hamil, dapat dilakukan pada kehamilan 5 bulan keatas dan masuk didalam kelas antenatal, dan juga latihan pernafasan dengan menahan nafas dan mengedan dibantu oleh suaminya, atau jogging.

II.3. Tetanus Toxoid dapat diberikan 2 kali, pertama pada kehamilan 5 bulan dan  yang kedua pada kehamilan 6 bulan atau pada 6 dan 7 bulan atau pada 7 dan 8 bulan, dan seterusnya.

II.4. Motivasi / konsultasi KB. Dianjurkan untuk menjarangkan anak bagi ibu-ibu yang baru mempunyai anak  satu, dan dianjurkan kontrasepsi mantap bagi ibu-ibu yang telah cukup anak setelah melahirkan ini, karena anak yang terlalu rapat akan menyebabkan keletihan pada ibu dan rahimnya karena tidak sempat istirahat, sehingga bisa timbul perut gantung dan kemungkinan PPH setelah melahirkan. Hal ini menyebabkan angka kesakitan dan kematian ibu dan janin akan meninggi.

II.5. Higiene, kebersihan diri dan lingkungan. Ibu hamil perlu menjaga kebersihan diri yaitu dengan menjaga kebersihan terutama didaerah/sekitar kemaluan, payudara, dan seluruh tubuh umumnya. Juga menjaga kebersihan lingkungannya yaitu makanan, tempat tidur, serta lingkungan tempat tinggal.

III. Semua klinik antenatal sekarang mempunyai kelas antenatal dengan instruktur antenatal dengan peserta dari ibu hamil beserta suaminya. Satu kelas berisi 6 – 20 orang peserta. KIE mengenai pengetahuan obstetri fisiologi, patologi dan kedaruratan obstetri. Ini perlu untuk ibu hamil tersebut dapat percaya diri dan bila ada kedaruratan dapat segera ke RS terdekat dengan fasilitas yang lengkap kalau perlu diberitahu cara-cara menuju Rumah Sakit tersebut dan syarat-syaratnya (biaya, cara melapor dan sebagainya).
Merokok selama hamil dapat menyebabkan janinnya kurus dan kecil. Demikian pula dengan alkohol, akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin.


Pada hamil normal, hubungan suami istri dapat dilakukan secara kontinu kecuali bila ada perdarahan dari kemaluan dan penyakit lain yang berbahaya. Setelah kehamilan 34 minggu atau lebih, sebaiknya tidak bepergian dengan pesawat terbang.
Pakaian untuk ibu hamil terutama hamil tua harus yang longgar, tidak memakai korset, pakaian dalam sebaiknya terbuat dari bahan katun karena dapat menghisap keringat dan bila pakaian basah segera diganti dengan yang kering, pakaian dari bahan nilon dihindari, tidak memakai sendal/sepatu yang berhak tinggi. Ibu perlu istirahat yang cukup.
Informasi-informasi mengenai biaya RS,  mengenai bersalin di  RS atau di klinik biasa, karena dia dalam kondisi yang baik dan tidak ada kelainan patologis. Tanda-tanda inpartu dan persiapan diri, pakaian serta biaya yang dibutuhkan untuk ke RS, serta teman sebagai pendamping.



IV.  Mengenai persiapan masa nifas dan menyusui.
Dipersiapkan payudara untuk menyusui anaknya seperti menarik puting susu sehingga menonjol untuk kemudahan pengisapan si bayi, mengadakan masase ringan disekeliling payudara, puting susu dibersihkan dengan kapas yang dibasahi dengan air masak atau baby oil, memakai BH yang menyokong payudara, Menasehati ibu hamil agar kalau berhubungan dengan suaminya tidak mengisap air susu karena pada kehamilan 2 bulan sudah ada kolostrum (susu julong). Bila air susu keluar prolaktin, akan merangsang keluarnya oksitosin sehingga timbul his kemungkinan akan terjadi kelahiran abortus, partus imaturus atau prematurus. Untuk meningkatkan jumlah air susu, ibu perlu mengkonsumsi makanan yang bergizi seperti susu, keju, yogourt, daging, ikan, telur dan sayuran daun katu selama hamil dan masa nifas serta masa menyusui.


KEPUSTAKAAN

1.  Chamberlain,G , et al : Illustrated Textbook of Obstetrics. Second Ed., London, 1991, p.38-71.
2.  Stirrat,GM. : Pocket Consultant of Obstetrics, 1982, p. 53-60
3.  Hanafiah,TM : Kekurangan asam folat pada kehamilan. Siang Klinik Folic Acid From Vitamin to    Drugs, Medan, 12 Juni 2001.
4.  Pernoll,ML , Taylor,CM : Normal Pregnancy and Prenatal Care. A Lange Medical Book, Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis & Treatment. Eight Ed. Appleton & Lange, Conecticut, 1994,  p.183-201
5.  Bernstein,PS, et al : Preconceptional and Prenatal Care. Cherry and Merkatz’s, Prevention of Complications, First Ed. Lippicort Williams and Wilkins, Philadelphia, 2000, p.1-15
6.  Benson and Pernoll : Handbook of Obstetrics & Gynecology. Diagnosis of Pregnancy and Prenatal Care. Nineth Ed. International Edition, 1994, p. 106-149.
7.  Pedler,SJ and Bint,AJ : Bacteriuria in Pregnancy. J of Paed., Obstet & Gynecol. May/June 1988, p.15-22.
8.  Symonds,E , Simon,IM : Essetial Obstetrics and Gynecology, Third Ed. Churchill Livingstone. P.35-45
Read More yuuk...

Minggu, 02 Oktober 2011

Laporan Kasus Coass Paket Bedah

      Nah..dah lama gak nge-posting hal-hal yang menyangkut medical. Kali ini aq mau berbagi laporan kasus saat coass di paket Bedah. Aq dapet pasien laporan kasus di bidang bedah anak. Niih...laporan Kasusnya. Maaf kalau kurang sesuai keinginan yah :)

Laporan Kasus: Teratoma Sakrokoksigeal Pada Bayi Usia 8 Bulan
Oleh: Nurhayati A. Y. Maanaiya


BAB I
PENDAHULUAN
     Teratoma merupakan tumor kongenital yang berasal dari sel embrional pluri potent, yang terdiri dari tiga lapisan sel embrional yaitu ektoderm, entoderm dan mesoderm.1
     Secara umum, teratoma merupakan neoplasma yang jarang terjadi. Persentase kejadian teratoma menurut lokasi: 2 
- kepala dan leher 53% 
- mediastinum 4%
- retroperitoneal dan abdominal 5%
- sakrokoksigeus 40%
- ovarium 37%
- testis 3%
- SSP 33%
- lain-lain 2% 

Teratoma sakrokoksigeus adalah tumor yang paling sering terjadi pada bayi baru lahir, terjadi pada 1 per 20.000-40.000 kelahiran, paling sering ditemukan pada wanita dengan Rasio 3:1 sampai 4:1 pernah dilaporkan.3,4 
     Teratoma sakrokoksigeus merupakan tumor padat yang mengandung derivat satu atau lebih lapisan germinal embrionik, timbul dari ujung coccygis dan biasanya tergambarkan sebagai massa yang menonjol di antara rectum dan coccygis dimana konsentrasi terbesar sel primitive berada untuk periode waktu yang lama.5,6 
     Teratoma terbentuk dan berkembang selama kehidupan intrautrin, dapat menjadi sangat besar pada teratoma sakrokoksigeus seiring dengan perkembangan fetus. Teratoma sakrokoksigeus muncul dari primitif knot atau hensen’s node. Semula terletak di bagian posterior embrio yang bermigrasi secara caudal pada minggu pertama kehidupan didalam ekor embrio, akhirnya berhenti di anterior tulang ekor (coccyx). Alur migrasi dari sel germinal menunjukan lokasi dan patologi yang paling sering terdapat teratoma (sakrokoksigeus dan gonad). Sel-sel ini dapat meluas ke postero-inferior masuk daerah glutea dan /atau postero-superior masuk ke rongga abdominopelvik. Pemisahan sel totipotensial dari hansen’s node mungkin menyebabkan munculnya teratoma sakrokoksigeus. Sel pleuripotensial ini melarikan diri dari kontrol pengatur embrionik dan berdiferensiasi masuk dalam jaringan yang tidak biasa ditemukan pada daerah sakrokoksigeus. Tumor terjadi dekat dengan tulang ekor, dimana konsentrasi terbesar primitif sel berada untuk waktu yang lama selama masa perkembangan.5,6 
     Klasifikasi teratoma sakrokoksigeus berdasarkan Altman classification of Surgical Section of the American Academy of Pediatrics:5,6
- Tipe I : Tumor terutama di bagian luar mengarah dari daerah sakrokoksigeus dan muncul dengan distorsi bokong 
· Tipe II : Tumor terutama diluar , tetapi ada bagian yang luas didalam pelvis. 
· Tipe III : Tumor terutama didalam pelvis dengan sedikit pada bagian luar, benjolan pada bokong. 
· Tipe IV : Tumor seluruhnya didalam tanpa ada dibagian luar atau bagian bokong 
     Teratoma diklasifikasikan kedalam tiga kategori histopatologi:6 
· Teratoma benigna : Terdapat deferensiasi baik, benigna, matur, hanya jaringan dewasa 
· Teratoma dengan imatur jaringan embrionik yang bukan maligna seutuhnya, dengan atau tanpa jaringan matur. 
· Teratoma maligna: Dengan jaringan maligna seutuhnya, ditambah jaringan matur dan /atau embrionik.
      Gejala klinisnya yaitu muncul sebagai massa yang menonjol antara coccyx dan anus yang biasa ditutupi dengan kulit normal yang intak. Beberapa penderita, seluruh atau sebagian benjolan terletak pada permukaan retrorektal atau retroperitoneum. Pada bayi dan anak-anak, tumor muncul sebagai massa pada daerah sakropelvis yang menekan kandung kemih dan rectum. Seringnya gejala obstruksi pada traktus urinarius yang disebabkan oleh kompresi ureter dan urethra terhadap pubis atau kompresi ureter terhadap pinggiran pelvis dan terjadi kesulitan defekasi sebagai tanda obstruksi yang mungkin tidak cukup dikenali. Sebagian kecil penderita dapat mengalami paralysis, nyeri, atau kelemahan pada kaki, terutama pada stadium lambat dari invasi maligna dari tumor. Pada teratoma sakrokoksigeus pada fetus, jika tumornya besar, dapat menyebabkan distosia, kesulitan melahirkan dan perdarahan atau laserasi tumor.6,7 
     Diagnosis biasanya ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis didapatkan adanya nyeri rectum, konstipasi, dan adanya sebuah benjolan. Tumor ini biasanya didiagnosis ketika ditemukan benjolan sacrum yang besar setelah kelahiran yang sulit atau obstruksi pada kelahiran. Teratoma sakrokoksigeus juga sering didiagnosa sebelum bayi lahir dengan pemeriksaan ultrasonografi fetal. Apabila sulit membedakan teratoma sacrococygeal dengan lesi lain, pemeriksaan penunjang lain dibutuhkan seperti foto polos, ultrasonografi, computer tomografi (CT) atau MRI. Foto thoraks membantu menyingkirkan penyakit metastase. Foto polos pada sacral dapat menunjukkan adanya kalsifikasi dalam tumor. Ultrasonografi berguna untuk menentukan sifat lesi (padat atau kistik, adanya komponen intraabdominal dan keterlibatan hati). Baik CT Scan lateral dan magnetic resonance imaging ( MRI )akan menunjukkan perluasan intrapelvis dan intraspinal dari lesi sacral dengan rincian yang jelas. Beberapa teratoma mengandung elemen yolk salk, dimana mengeluarkan alfa–fetoprotein. Deteksi AFP dapat membantu memperjelas diagnosis dan sering digunakan sebagai marker untuk rekurensi atau efektifitas pengobatan, tapi metode yang jarang pada diagnosis awal. Pada satu tahap, AFP meningkat pada 31 dari 32 teratoma maligna. AFP juga ditemukan meningkat pada cairan amnion jika infan menderita teratoma.7,8
     Penanganan teratoma sakrokoksigeus harus dieksisi lengkap. Lesi Tipe I dan II dapat dimulai pada daerah posterior melalui chevron insisi dan sagital. Lesi tipe III dan IV harus insisi tambahan transversal pada perut bagian bawah. Bagian penting pada prosedur termasuk pengangkatan lengkap pada tumor intak, ligasi arteri sakral tengah, dan eksisi tulang ekor ( coccyx ) bersama tumor. Jika tumor secara histologi benigna ( hanya jaringan matur) atau mengandung jaringan embrionik tanpa maligna seutuhnya, eksisi lengkap adekuat. Jika lesi benigna (97 %), tidak diindikasikan terapi lanjutan. Untuk Tumor yang agresif dan terdapat jaringan malignan seutuhnya, pembedahan eksisi sendiri tidak adekuat dan penderita harus mendapatkan kemoterapi dan atau radioterapi. Penderita dengan rekurensi kanker dan tidak dapat dieksisi diberikan terapi VAC (vinkristin, dactinomycin, cyclophosphamide) ditambah radiasi lokal. Penderita ini harus dievaluasi setiap 3 bulan selama 2 tahun pertama dengan pemeriksaan rectal dan jumlah AFP. Penderita yang diperkirakan rekurensi harus dievalusi dengan pemeriksan radiologi yang sesuai, ultrasonografi dan/ atau CT. Lesi ini paling baik direseksi dalam 24 jam pertama, sejak usus tidak dikoloni pada 24 jam pertama setelah kelahiran., mengurangi resiko infeksi pada daerah yang terkontaminasi feses selama reseksi. Perioperatif antibiotik diberikan segera sebelum pembedahan dan dilanjutkan 24-48 jam setelah operasi.6,9 
     Prognosis teratoma sakrokoksigeus dapat membaik dipengaruhi oleh deteksi prenatal, rencana penanganan intrapartum, dan cepat dilakukan pembedahan reseksi. Secara histologi tumor benigna, prognosisnya sangat baik setelah pembedahan eksisi yang adekuat. Prognosis buruk jika tumor mengandung jaringan maligna. Resiko maligna tergantung pada bagian dan luasanya tumor serta umur pada saat didiagnosis.6,9 

LAPORAN KASUS 

Nama : An. OM 
TTL : Esandom, 14-10-2009 
Umur : 8 bulan 
Jenis kelamin : Perempuan 
Agama : Protestan 
Alamat : Desa Esandom jaga-3 Kec. Tombatu 
MRS : 05-05-2010 
Keluhan Utama : Benjolan di bokong 


RPS : Benjolan di bokong dialami penderita sejak dilahirkan. Awalnya benjolan kecil sebesar biji salak,lama kelamaan membesar hingga sebesar bola tenes. Demam(-), penurunan berat badan (-). BAB dan BAK biasa. Riwayat persalinan : Kehamilan cukup bulan, lahir pervaginam oleh bidan kampung, BB : 3000 gram. Riwayat trauma dan penggunaan obat-obatan tertentu saat hamil di sangkal. 
RPD : (-) 
RPK : Hanya penderita yang menderita penyakit seperti ini dalam keluarga. 
RPSos : Jamkesda 
Pemeriksaan Fisik : Keadaan umum : Cukup                                         Kesadaran : Compos mentis 
Tanda Vital : Nadi : 130 x/m      RR : 40 x/m      SB : 37,2 °C 
Kepala : Konjungtiva anemis (-), sclera ikterik (-), pupil bulat isokor diameter 3mm, reflex cahaya +/+ ( normal) 
Leher : Tidak ada kelainan 
Thoraks : Tidak ada kelainan 
Abdomen : Tidak ada kelainan 
Tulang Belakang : Regio Sacralis : Tampak benjolan ukuran 15 cm x 10 cm, warna kulit normal seperti warna kulit di daerah sekitar benjolan , nyeri tekan (-), mobile, konsistensi kenyal, batas tidak tegas
Ekstremitas superior et inferior : Tidak ada kelainan 
Neurologi : Refleks fisiologi +/+ ( normal ), refleks patologi -/- 
Rectum / anal : Tidak ada kelainan 
Rectal Toucher : TSA cekat, ampula kosong, massa (-), mukosa licin 
Wdx : Susp. Teratoma Sakrokoksigeus 
Sikap : Pro CT Scan Pelvis 

 FOLLOW UP RUANGAN 
06-07/05/2010 
S : Benjolan pada bokong 
O : PF : Nadi : 130 x/m; RR : 40 x/m; SB : 37,1 °C  
Regio Sacralis : Tampak benjolan ukuran 15 cm x 10 cm, warna kulit normal seperti warna kulit di daerah sekitar benjolan, nyeri tekan (-), mobile, konsistensi kenyal, batas tidak tegas 
A : Susp. Teratoma Sakrokoksigeus 
P : Pro CT Scan Pelvis, Periksa DL, ureum, kreatinin, SGOT, SGPT 
 Hasil Laboratorium 06/05/2010 
Leukosit : 17.700 /µl 
Eritrosit : 4.820.000 /µl 
Trombosit : 329.000 /µl 
Hb : 12,5 /dl 
Ht : 37,3 
Kreatinin : 0,4 mg/dl 
Ureum : 20 mg/dl 
SGOT : 62 U/I 
SGPT : 35 U/I 

 08-10/05/2010 
S : Benjolan pada bokong, batuk (+) 
O : PF : Nadi : 130 x/m; RR : 40 x/m; SB : 37,1 °C 
 Regio Sacralis : Tampak benjolan ukuran 15 cm x 10 cm, warna kulit normal seperti warna kulit di daerah sekitar benjolan, nyeri tekan (-), mobile, konsistensi kenyal, batas tidak tegas 
A : Susp. Teratoma Sakrokoksigeus 
P : Pro CT Scan Pelvis ,  Cefixime 2 x ½ cth , Periksa CT, BT 
Hasil Pemeriksaan CT, BT 10/05/2010 
Masa Perdarahan ( BT ) : 2 menit 
Masa Pembekuan ( CT ) : 8 menit 

 11-13/05/2010 
S : Benjolan pada bokong, batuk berkurang 
O : PF : Nadi : 130 x/m; RR : 40 x/m; SB : 37,1 °C 
 Regio Sacralis : Tampak benjolan ukuran 15 cm x 10 cm, warna kulit normal seperti warna kulit di daerah sekitar benjolan, nyeri tekan (-), mobile, konsistensi kenyal, batas tidak tegas 
A : Susp. Teratoma Sakrokoksigeus 
P : Cefixime 2 x ½ cth, Curcuma syr 2 x ½ cth 
CT-Scan regio Lumbosacral terlihat soft tissue tumor axial / coronal 
X - Foto thorax AP , Hasil X-Foto thorax AP : Dalam batas normal 

 14-18/05/2010 
S : Benjolan pada bokong, batuk (+), demam (+) 
O : PF : Nadi : 130 x/m; RR : 40 x/m; SB : 37,1 °C 
 Regio Sacralis : Tampak benjolan ukuran 15 cm x 10 cm, warna kulit normal seperti warna kulit di daerah sekitar benjolan, nyeri tekan (-), mobile, konsistensi kenyal, batas tidak tegas 
A : Susp. Teratoma Sakrokoksigeus 
P : Cefixime 2 x ½ cth , Ambroxol pyr/8gr , Activet 3 x ½ 
 CT-Scan regio Lumbosacral terlihat soft tissue tumor axial / coronal 

 19-21/05/2010 
S : Benjolan pada bokong 
O : PF : Nadi : 130 x/m; RR : 40 x/m; SB : 37,1 °C 
 Regio Sacralis : Tampak benjolan ukuran 15 cm x 10 cm, warna kulit normal seperti warna kulit di daerah sekitar benjolan, nyeri tekan (-), mobile, konsistensi kenyal, batas tidak tegas 
A : Teratoma Sakrokoksigeus 
P : Pro eksisi komplet , Konsul pediatri untuk rawat bersama post operasi 

 Jawaban Konsul Pediatri: 
Terima kasih atas konsul penderita an. OM 
Umur : 7 bulan 
BB : 6,8 kg 
TB : 62 cm 
Diagnosis : Teratoma Sakrokoksigeus 
Pada pemeriksaan kami dapatkan 
Ku : Cukup 
Kesadaran : Compos mentis 
N : 124 x/m      R : 30x/m      S : 36,4ºC 
Kepala : Anemis -/-, ikterus -/- 
Thoraks : Simetris kiri=kanan, retraksi –              Cor/pulmonal : dalam batas normal 
Abdomen : Datar, lemas, BU (+),    Hepar/Lien tidak teraba 
Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 3” 
Status Lokalis : Regio Sacralis : Tampak benjolan ukuran 15 cm x 10 cm, warna kulit normal seperti warna kulit di daerah sekitar benjolan, nyeri tekan (-), mobile, konsistensi kenyal, batas tidak tegas 

Hasil Laboratorium 06/05/2010 
Leukosit : 17.700 /µl , Eritrosit : 4.820.000 /µl , Trombosit : 329.000 /µl , Hb : 12,5 /dl , Ht : 37,3 , Kreatinin : 0,4 mg/dl , Ureum : 20 mg/dl , SGOT : 62 U/I , SGPT : 35 U/I 

Anjuran : 
- Apabila penderita puasa IVFD KAEN 1B ( D ) 714 cc/hari , 29 --- 30 cc/jam , 9 --- 10 gtt/menit (makro) 
- Post Operasi : Inj Cefotaxime 3 x 450 mg IV (ST) , Inj Gentamisin 2 x 25 mg IV , Periksa DL, SGOT, SGPT --- sebelum operasi (Pada pemeriksaan tidak ditemukan tanda-tanda infeksi tapi pada hasil  laboratorium leukosit 17.700 /µl) 
- Periksa DL post operasi 

 22/05/2010 
Penderita pulang paksa


   BAB II 
PEMBAHASAN 
       Pada kasus ini penderita perempuan umur 8 bulan MRS tanggal 05-05-2010 dengan keluhan utama benjolan di bokong. Penegakan diagnosis penderita ini didasarkan atas anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lain. 
     Teratoma sakrokoksigeus adalah tumor yang paling sering terjadi pada bayi baru lahir. Teratoma terbentuk dan berkembang selama kehidupan intrautrin, dapat menjadi sangat besar pada teratoma sakrokoksigeus seiring dengan perkembangan fetus. Pada anamnesis didapatkan adanya nyeri rectum, konstipasi, dan adanya sebuah benjolan. Tumor ini biasanya didiagnosis ketika ditemukan benjolan sacrum yang besar setelah kelahiran yang sulit atau obstruksi pada kelahiran. 3,6 Pada anamnesis penderita ini didapatkan adanya benjolan di bokong penderita yang dialami sejak dilahirkan. Awalnya benjolan kecil sebesar biji salak, lama kelamaan membesar hingga sebesar bola tenes. Demam(-), penurunan berat badan (-). BAB dan BAK biasa. Riwayat persalinan ibu penderita: kehamilan cukup bulan, lahir pervaginam oleh bidan kampung, BB : 3000 gram. Riwayat trauma dan penggunaan obat-obatan tertentu saat hamil di sangkal. Hanya penderita yang menderita penyakit seperti ini dalam keluarga. 
        Pada pemeriksaan tanda vital penderita didapatkan nadi 130 x/m, respirasi 40 x/m, suhu badan 37,2°C
      Gejala klinis teratoma sakrokoksigeal yaitu muncul sebagai massa yang menonjol antara coccyx dan anus yang biasa ditutupi dengan kulit normal yang intak. Beberapa penderita, seluruh atau sebagian benjolan terletak pada permukaan retrorektal atau retroperitoneum.6 Pada pemeriksaan fisik pederita, ditemukan pada tulang belakang di regio sacralis tampak benjolan ukuran 15 cm x 10 cm, warna kulit normal seperti warna kulit di daerah sekitar benjolan , nyeri tekan (-), mobile, konsistensi kenyal, batas tidak tegas. Pemeriksaan fisik kepala, leher, thoraks, abdomen, ekstremitas dalam batas normal. 
     Apabila sulit membedakan teratoma sacrococygeal dengan lesi lain, pemeriksaan penunjang lain dibutuhkan seperti foto polos, ultrasonografi, computer tomografi (CT) atau MRI. Foto thoraks membantu menyingkirkan penyakit metastase. Foto polos pada sacral dapat menunjukkan adanya kalsifikasi dalam tumor. Ultrasonografi berguna untuk menentukan sifat lesi (padat atau kistik, adanya komponen intraabdominal dan keterlibatan hati). Baik CT Scan lateral dan magnetic resonance imaging ( MRI )akan menunjukkan perluasan intrapelvis dan intraspinal dari lesi sacral dengan rincian yang jelas. Beberapa teratoma mengandung elemen yolk salk, dimana mengeluarkan alfa–fetoprotein. Deteksi AFP dapat membantu memperjelas diagnosis dan sering digunakan sebagai marker untuk rekurensi atau efektifitas pengobatan, tapi metode yang jarang pada diagnosis awal. Pada satu tahap, AFP meningkat pada 31 dari 32 teratoma maligna. AFP juga ditemukan meningkat pada cairan amnion jika infan menderita teratoma.7,8 Untuk menunjang diagnosis pederita ini maka dilakukan pemeriksaan CT-Scan pelvis dan X-foto thoraks AP. Hasil pemeriksaan CT-Scan pelvis penderita yaitu pada regio lumbosacral terlihat soft tissue tumor axial / coronal. Hasil X-foto thoraks AP dalam batas normal sehingga dapat menyingkirkan adanya metastase tumor ke daerah thoraks. 
      Hasil Laboratorium 06 Mei 2010, Leukosit 17.700 /µl, eritrosit 4.820.000 /µl, trombosit 329.000 /µl, Hb 12,5 /dl, Ht 37.3, kreatinin 0,4 mg/dl, ureum 20 mg/dl, SGOT 62 U/I, SGPT 35 U/I. Komplikasi akibat pengaruh benjolan pada teratoma sakrokoksigeus yang besar termasuk pembesaran pinggul, obstruksi saluran cerna, obstruksi urinarius, hidronefrosis dan hidrop fetalis.6 Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui apakah teratoma sakrokoksigeus penderita ini memiliki komplikasi. 
       Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, penderita di diagnosis dengan teratoma sakrokoksigeus. 
      Penanganan teratoma sakrokoksigeus harus dieksisi lengkap. Lesi Tipe I dan II dapat dimulai pada daerah posterior melalui chevron insisi dan sagital. Lesi tipe III dan IV harus insisi tambahan transversal pada perut bagian bawah. Bagian penting pada prosedur termasuk pengangkatan lengkap pada tumor intak, ligasi arteri sakral tengah, dan eksisi tulang ekor ( coccyx ) bersama tumor. Jika tumor secara histologi benigna ( hanya jaringan matur) atau mengandung jaringan embrionik tanpa maligna seutuhnya, eksisi lengkap adekuat. Jika lesi benigna (97 %), tidak diindikasikan terapi lanjutan. Untuk Tumor yang agresif dan terdapat jaringan malignan seutuhnya, pembedahan eksisi sendiri tidak adekuat dan penderita harus mendapatkan kemoterapi dan atau radioterapi. Penderita dengan rekurensi kanker dan tidak dapat dieksisi diberikan terapi VAC (vinkristin, dactinomycin, cyclophosphamide) ditambah radiasi lokal. Penderita ini harus dievaluasi setiap 3 bulan selama 2 tahun pertama dengan pemeriksaan rectal dan jumlah AFP. Penderita yang diperkirakan rekurensi harus dievalusi dengan pemeriksan radiologi yang sesuai, ultrasonografi dan/ atau CT. Lesi ini paling baik direseksi dalam 24 jam pertama, sejak usus tidak dikoloni pada 24 jam pertama setelah kelahiran., mengurangi resiko infeksi pada daerah yang terkontaminasi feses selama reseksi. Perioperatif antibiotik diberikan segera sebelum pembedahan dan dilanjutkan 24-48 jam setelah operasi.6,9 Penderita direncanakan untuk dilakukan eksisi lengkap namun tanggal 22 Mei 2010 penderita pulang paksa sebelum dilakukan eksisi lengkap. 
     Prognosis teratoma sakrokoksigeus dapat membaik dipengaruhi oleh deteksi prenatal, rencana penanganan intrapartum, dan cepat dilakukan pembedahan reseksi.6 Prognosis penderita ini adalah dubia ad malam karena penderita pulang paksa sebelum dilakukan tindakan eksisi lengkap.
Read More yuuk...

Sabtu, 25 Juni 2011

Stroke

Stroke adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global), dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih ataupun yang menyebabkan kematian, tanpa ada penyebab lain yang jelas selain vaskuler (WHO, 1986).1,2




Epidemiologi



Sebagai masalah neurologis serius yang paling umum di dunia, di Amerika Serikat stroke merupakan penyebab kedua terbanyak kecacatan neurologi setelah trauma kapitis. Peringkat stroke berada di bawah penyakit jantung dan kanker sebagai penyebab kematian paling sering di dunia barat. Di Indonesia pada periode 6 bulan tahun 1996-1997 mortalitas akut stroke pada 28 rumah sakit di seluruh Indonesia 23,3% dan di RSUP Manado bagian saraf periode 1997-2000 adalah 18%. Insidens stroke lebih tinggi pada pria dibandingkan dengan pada wanita. Di Amerika Serikat insidens stroke pada orang kulit hitam lebih tinggi dibandingkan dengan orang kulit putih.2,3

Etiologi dan Patofisiologi

Terdapat empat bentuk utama penyakit vaskuler pada otak yaitu trombotik, embolik, lakunar, hemoragik. Stroke trombotik biasanya terjadi akibat stenosis atherosklerotik atau oklusi arteri karotis atau arteri cerebri media. Defisit tersebut mungkin didahului oleh serangan iskemik sesaat (TIA) atau dapat berkembang setiap saat, karena oklusi trombotik terjadi secara bertahap. Sebaliknya stroke embolik terjadi secara mendadak karena trombosit, kolesterol, fibrin, atau komponen darah lainnya mengambang dalam sirkulasi sampai menyumbat pembuluh darah terkecil korteks distal. Stroke yang terjadi pada keadaan infark miokardium biasanya merupakan akibat dari emboli jantung. Stroke lakunar adalah proses infark yang sangat kecil, kurang dari 1 cm3, yang terjadi di tempat percabangan langsung arteriol perforantes kecil dari pembuluh darah besar. Stroke hemoragik paling membahayakan. Regio otak yang terkena sama dengan regio yang terkena pada stroke lakunar, termasuk ganglia basalis, kapsula interna, dan batang otak.3,4


Faktor Resiko

Termasuk faktor resiko yang dapat menimbulkan stroke adalah:1
Faktor biologik yang tidak
dapat dimodifikasi Factor fisiologik yang
dapat dimodifikasi Faktor gaya hidup
dan pola prilaku
• Umur
• Jenis kelamin
• Ras
• Herediter • Hipertensi
• Diabetes
• Lipid
• Penyakit jantung
• Stenosis karotis
• TIA
• Homosisteinemia
• Ateroma aorta • Merokok
• Obesitas
• Aktivitas fisik
• Diet
• Alkohol
• Kontrasepsi oral


Klasifikasi

Klasifikasi stroke diperlukan untuk menentukan prognosis pemulihan fungsional dan tinjauan akhir rehabilitasi stroke, dibedakan atas:1,6
1. Berdasarkan lokasi lesi anatomis:
• Kortikal
• Subkortikal
• Batang otak
2. Berdasarkan letak gangguan sirkulasi di otak (Bamford Clinical Classification of Stroke):
• Sindroma sirkulasi anterior total (Total Anterior Circulation Syndromes/TACS)
• Sindroma sirkulasi anterior parsial (Partial Anterior Circulation Syndromes/PACS)
• Sindroma sirkulasi posterior (Posterior Circulation Syndromes/POCS)
• Sindroma lakunar (Lacunar Syndromes/LACS)
3. Berdasarkan sifat gangguan aliran darah:
• Non Haemorrhagik
• Haemorrhagik
4. Berdasarkan waktu terjadinya:
• Stroke in evolution
• Stroke komplit (pertama, berulang)
Berdasarkan perjalanan penyakit, stroke terbagi atas:1,7
A. Transient Ischaemic Attack (TIA), yaitu stroke dengan defisit neurologis yang terjadi dan akan kembali normal dalam 24 jam.
B. Reversible Ischaemic Neurologic Deficit, yaitu stroke dengan defisit neurologis lebih dari 24 jam yang akan kembali normal dalam 3 minggu.
C. Progressing Stroke, yaitu stroke dengan defisit neurologis menjadi lebih berat dan jelas dalam beberapa jam atau hari.
D. Completed Stroke, yaitu stroke dengan defisit neurologis telah stabil/tak bertambah lagi sejak awal serangan.


Stroke Hemoragik
Stroke hemoragik adalah kematian jaringan otak yang disebabkan pecahnya pembuluh darah sehingga mengganggu aliran darah normal yang mengakibatkan darah masuk dalam daerah otak dan menimbulkan kerusakan (Berkow dkk, 1997). Berdasarkan daerah dan penyebab dari perdarahan, stroke hemoragik dibagi menjadi dua yaitu perdarahan intraserebral dan perdarahan subaraknoid.8


Perdarahan Intraserebral

Salah satu jenis stroke hemoragik yang disebabkan oleh perdarahan ke dalam jaringan otak sehingga menyebabkan kematian jaringan.8
Epidemiologi
Perdarahan intraserebral menempati 10-15% dari semua jenis stroke dan angka kematiannya tinggi dibanding stroke iskemik dan stroke subaraknoid. Pria lebih sering mengalami perdarahan intraserebral dibanding wanita, terutama dengan usia 55 tahun ke atas. Angka kematian paling besar bila perdarahan terletak di pons (100%) diikuti dengan basal ganglia (83%) dan serebellum (67%).8
Etiologi
Berdasar etiologi, perdarahan intraserebral pada umumnya disebabkan oleh hipertensi, disusul dengan aneurisma, malformasi arteriovenosa, dan masih banyak lagi (Widjaja, 1988). Dimana hipertensi dan usia lanjut merupakan faktor risiko utama pada perdarahan intraserebral (Broderick et al, 1999). 8
Patofisiologi
Perdarahan intraserebral terjadi karena pembuluh darah pada bagian dalam serebral pecah sehingga menyebabkan perdarahan. Perdarahan intraserebral umumnya terjadi pada lima daerah yaitu basal ganglia, thalamus, pons, serebellum, dan lobar. 8
Terapi (Broderick et al, 1999)
a. Managemen di Ruang Intensive Care Unit (ICU).
Penanganan awal ditujukan pada aliran udara, pernafasan, sirkulasi, dan deteksi defisit fokal neurologi. Monitor dilakukan setidaknya 24 jam setelah masuk ICU. Selain itu perlu dicari tanda-tanda trauma eksternal, contohnya kaku tengkuk dan hilangnya kesadaran.8
b. Saluran Nafas dan Oksigenasi
Walaupun intubasi tidak diperlukan untuk semua pasien namun aliran udara dan sirkulasi udara yang baik sangat penting terutama untuk pasien yang tingkat kesadarannya semakin melemah atau pasien yang menunjukkan tanda-tanda disfungsi batang otak.8
c. Penanganan Tekanan Darah
• Tekanan darah tinggi 8
a. Jika sistolik >230 mmHg atau diastolik >140 mmHg dalam dua kali pemeriksaan dengan selang waktu 5 menit maka diberi nitropruside.
b. Jika tekanan darah sistolik 180-230 mmHg, tekanan darah diastolik 105-140 mmHg, atau rata-rata tekanan darah arterial 130 mmHg dalam dua kali pemeriksaan dengan selang waktu 20 menit maka diberi labetalol intravena, esmolol, analapril atau atau obat lain dengan dosis kecil yang dititrasi secara intravena seperti diltiazem, lisinopril, atau verapamil.
c. Jika sistolik <180 mmHg dan diastolik <105 mmHg, sebaiknya terapi antihipertensi ditunda. Pilihan pengobatan tergantung dari kontraindikasi dari obat lain.
• Tekanan darah rendah 8
Jika hipotensi terjadi setelah berkurangnya volume darah, maka pemberian infus yang berkesinambungan harus dipertimbangkan terutama untuk tekanan darah sistolik <90 mmHg.
d. Penanganan Keseimbangan Cairan
Tujuan dari pengaturan cairan adalah evolemia (volume darah yang normal. Keseimbangan cairan dihitung dengan mengukur produksi urin per hari ditambah dengan 500 ml untuk “insensible loss” (kekurangan air melalui keringat dan penguapan pernafasan) dan ditambah 300 ml untuk tiap derajat celcius pada pasien yang demam. 8
e. Pencegahan Konvulsi
Kejang dapat menyebabkan kerusakan neuron dan dapat memperparah pasien yang sudah kritis. Pada pasien dengan perdarahan intrserebral, pencegahan dengan obat antiepilepsi dapat diberikan selama satu bulan kemudian dosis diturunkan dan dihentikan bila tidak terjadi konvulsi selama pengobatan.8
f. Penanganan Suhu Tubuh
Suhu tubuh harus dipertahankan pada suhu normal. Pada pasien yang demam dan berisiko infeksi, pemeriksaan sputum, darah, dan urin diperiksa dan diberi antibiotik. 8
g. Penanganan Lain
Pasien yang gelisah diberi obat penenang yang bekerja singkat seperti benzodiazepine dan propofol boleh dianjurkan. Obat lain seperti analgetika dan neuroleptika dapat diberikan bila perlu. 8
i. Terapi Bedah
Tujuan dari dilakukannya tindakan bedah adalah untuk menghilangkan ataupun mencegah perdarahan yang lebih besar dan atau mencegah perdarahan ulang8



Perdarahan Subaraknoid
Perdarahan subaraknoid merupakan perdarahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam rongga subaraknoid (subarakhnoid space), yaitu rongga yang berada di antara otak dengan tengkorak kepala. 8
Epidemiologi
Angka kejadian pada penderita perdarahan subaraknoid tergolong rendah. Diperkirakan 15-20 penderita di setiap 100.000 orang setiap tahun dan sekitar 10% di antaranya meninggal tanpa mendapat perawatan medis terlebih dahulu.8
Etiologi
Intakranial aneurisma (18-76%), malformasi arteriovenosa (6%), trauma, neoplasma, koagulopati, penyakit vascular kolagen, anemia sikel sel, infraksi serebral, dan penyalahgunaan obat (Gomersall, 2003). 8
Faktor Risiko
Hipertensi merupakan faktor risiko yang paling banyak dijumpai pada perdarahan subaraknoid. Merokok dan konsumsi alkohol yang tinggi juga merupakan faktor risiko perdarahan subaraknoid (Gomersall, 2003).8
Patofisiologi
Perdarahan subaraknoid terjadi karena pecahnya pembuluh darah atau aneurisma, umumnya pada cabang besar arterior lingkaran willis dan arteri kortikoid internal yang menyebabkan akumulasi darah pada permukaan otak. Darah ini masuk ruangan antara otak dan tengkorak dan bercampur dengan cairan cerebrospinal (Bescke&Jallo, 2004).8
Derajat perdarahan subaraknoid: 8
• Stadium 1, perdarahan asimtomatik, sakit kepala ringan, sedikit kaku kuduk.
• Stadium 2, sakit kepala sedang-berat, kaku kuduk, belum ada gangguan defisit neurologis.
• Stadium 3, mengantuk, defisit neurologis ringan.
• Stadium 4, kesadaran hilang, hemiparesis sedang-berat, mungkin ada gangguan otonom.
• Stadium 5, koma, kejang.
Terapi (Welty, 2001; Berkow, 1997)8
a. Analgesik
Analgesik digunakan untuk menanggulangi sakit kepala yang parah.
b. Terapi komplikasi yang terjadi:
�� Perdarahan ulang
• Pelaksanaan operasi untuk menjepit pembuluh darah yang berdarah.
• Pemberian terapi antifibrinolitik seperti asam aminokaprioik.
�� Hidrosefalus
• Pemberian saluran ventrikular. Bila terjadi hidrosefalus kronik, maka diganti dengan ventrikular peritoneum shunt untuk pemasangan permanent.
• Pemberian antibiotik yang dapat menembus membrane barier otak untuk mencegah ventrikulitis (contohnya kloramfenikol, seftriakson, ampisilin, penisilin, vankomisin, seftazidim, sefuroksim dan rifampin). Antibiotik ini diberikan sampai tiga kultur cairan serebrospinal berurutan tidak menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri.
�� Iskemia lanjutan karena vasopasme
• Iskemia lanjutan diatasi dengan terapi hipervolemia. Jika penurunan gejala neurologik tidak dapat diatasi dengan hipervolemia, maka dilakukan peningkatan tekanan sistolik darah sampai 200-220 mmHg dengan dopamine dan norepinefrin. Tekanan sistolik yang tinggi menyebabkan otak mendapat peningkatan aliran darah menuju daerah iskemia, dan terapi ini dipertahankan untuk 7-14 hari.
• Terapi pemblok aliran kalsium
�� Serangan kejang
Terapi antikonvulsan, fenitoin digunakan untuk mencegah serangan kejang.



Diagnosis
Diagnosis stroke ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan neurologis serta pemeriksaan penunjang. Diagnosis stroke mencakup diagnosis klinis (sesuai perjalanan penyakit atau kawasan pembuluh darah), topis (kortikal, subkortikal atau batang otak), dan etiologis (infark atau perdarahan).1,2



Rehabilitasi Medik pada Stroke
Rehabilitasi stroke adalah pengelolaan medis dan rehabilitasi yang komprehensif terhadap disabilitas yang diakibatkan oleh stroke melalui pendekatan neurorestorasi dan neurorehabilitasi dengan tujuan mengoptimalkan dan memodifikasi kemampuan fungsional yang ada sehingga penyandang stroke mampu beradaptasi dan mencapai kemandirian serta kualitas hidup yang lebih baik.6
Prinsip rehabilitasi medik pada stroke ialah mengusahakan agar sedapat mungkin pasien tidak bergantung pada orang lain. Ukuran keberhasilan tidak hanya pada banyaknya jiwa yang tertolong tetapi berapa banyak pasien yang dapat kembali berfungsi lagi di masyarakat. Penderita stroke memerlukan penangan multidimensional dan melibatkan berbagai disiplin ilmu yang tergabung dalam suatu tim rehabilitasi medik dan juga kerjasama aktif dari keluarga dan masyarakat.7,9
Rehabilitasi dari pasien stroke dimulai dari saat perawatan akut. Intervensi yang tepat waktu memaksimalkan penyembuhan potensial dan mencegah timbulnya masalah-masalah akibat imobilisasi.10 Jenis stroke yang memerlukan rehabilitasi medis adalah jenis stroke berdasarkan waktu yaitu TIA, stroke in evolution dan complete stroke. Pada TIA tidak diperlukan rehabilitasi lengkap karena kelainan neurologis bersifat ringan dan biasanya hanya berupa gangguan koordinasi gerak terutama gangguan jalan ringan yang kemudian menjadi normal kembali sehingga cukup untuk memperbaiki jalan dan menguatkan otot. Stroke in evolution dan complete stroke mengakibatkan gangguan motorik dan sensorik yang umumnya berat sehingga harus dilakukan rehabilitasi medik sedini mungkin segera setelah keadaan kritis diatasi.7
Evaluasi rehabilitasi medik bertujuan untuk tercapainya sasaran fungsional yang realistik dan untuk menyusun suatu program rehabilitasi yang sesuai dengan sasaran tersebut. Pemeriksaan penderita meliputi 4 bidang evaluasi, yaitu: 7
1. Evaluasi neuromuskuloskeletal
2. Evaluasi medik umum
3. Evaluasi kemampuan fungsional
4. Evaluasi psikososial-vokasional
Secara garis besar tahapan program rehabilitasi stroke adalah:9
1. Bedside exercise
2. Sitting exercise
3. Standing exercise
4. Ambulation exercise
Terdapat 2 pola besar di dalam rehabilitasi stroke, yaitu:9,10
1. Pola tradisional, yang disebut pula pola rehabilitasi kompensasi atau pola pendekatan unilateral. Pada pola ini sisi yang sehat dilatih untuk mengkompensasi sisi yang sakit.
2. Pola pendekatan neurodevelopmental atau pola pendekatan bilateral, dimana segala upaya ditujukan untuk melatih kembali sisi yang sakit. Pola ini telah menggeser pola tradisional di dalam program rehabilitasi stroke modern.



Prognosis
Prognosis setelah stroke dibagi dalam:5,6
1. Prognosis ad vitam: Tergantung pada jenis, lokasi dan luas lesi pada stroke, faktor resiko, penyakit atau kondisi penyulit dan komplikasi yang terjadi.
2. Prognosis ad sanationam: Dapat berulang
3. Prognosis ad functionam:
Tergantung pada:
• Luas dan lokasi lesi neuroanatomis
• Penyakit atau kondisi penyulit
• Komplikasi
• Motivasi penderita dan dukungan keluarga
• Sarana dan tenaga profesinal rehabilitasi yang tersedia.
Prognosis fungsional rehabilitasi dibagi dalam 7 kategori:6
• Seluruhnya dibantu (ketergantungan total)
• Perawatan diri dibantu sebagian
• Aktivitas sehari-hari dibantu sebagian, perawatan diri mandiri
• Aktivitas sehari-hari perlu supervise
• Mandiri penuh, tidak bekerja
• Mandiri penuh, kembali kerja namun alih tugas/paruh waktu
• Mandiri penuh, kembali ke tempat kerja semula
Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis yaitu:7
• Saat mulainya rehabilitasi medik, program dimulai kurang dari 24 jam maka pengembalian fungsi lebih cepat. Bila dimulai kurang dari 14 jam maka kemampuan memelihara diri akan kembali lebih dahulu.
• Saat dimulainya pemulihan klinis, prognosis akan lebih buruk bila ditemukan adanya 1 – 4 minggu gerak aktif masih nol ( negatif ), 4 – 6 minggu fungsi tangan belum kembali dan adanya hipotonia dan arefleksia yang menetap.



Sumber: Laporan Kasus by Nurhayati Maanaiya

Read More yuuk...

Kamis, 14 Mei 2009

Pembunuhan Anak Sendiri

Mmmm . . . Pembunuhan anak emang merupakan fenomena yang beragam dengan bermacam kasus dan karakteristik. Pemberitaan mengenai hal tersebut kemungkinan membangkitkan reaksi emosi yang kuat dalam masyarakat.
Beberapa hal yang melatarbelakangi terjadinya pembunuhan anak selama ini, diantaranya :
1. Anak dijadikan korban (human sacrifice)
2. Mengontrol jumlah penduduk
3. Menghindari kemelaratan
4. Membatasi jumlah perempuan
5. Menghindari kelahiran cacat, takhayul, dan ilegitimasi.

Pembunuhan pada anak menjadi pokok penyelidikan dan publikasi sejak awal. Dimana kasus pertama atas pengabaian dan kekerasan fatal pada anak di laporkan di Modern Times yang disajikan oleh Ambrose Tardieau, seorang ahli forensik Francis dari abad ke-19, yang kemudian diikuti oleh forensik medis United Kingdom dan United States

John Caffey dan Henry Kempe merupakan klinisi yang diakui sebagai perintis penyelidikan terhadap kekerasan anak di United States. Caffey (1946) seorang radiologis Pitsburgh mempublikasikan gambaran pola trauma kepala dan fraktur yang dikenal sebagai “parent-infant stress syndrome” dan Kempe (1967) menggambarkan pola “battered child syndrome” yang dilaporkan dalam Journal of the American Medical Association. DiMaio seorang forensik patologi, menggambarkan karakteristik pembunuhan bayi, infant dan anak.




Resnick (1970) menjelaskan semua pembunuhan anak dengan istilah infanticide.


Pembunuhan anak yang sebagian besar dilakukan oleh orang tua dibedakan menjadi dua tipe, yaitu neonaticide dan filicide.


Neonaticide didefenisikan sebagai pembunuhan anak pada hari dia dilahirkan (<24>
Filicide didefenisikan sebagai pembunuhan terhadap anak anak laki-laki maupun perempuan berumur lebih dari 24 jam (Resnick, 1970, p. 58).


Sebagian besar pembunuhan anak terjadi pada dua tahun pertama kehidupan, dimana insiden terbanyak adalah pada tahun pertama. Hal terjadi ketika anak berusia sekitar enam minggu, dimana sang anak mulai menangis lebih sering dan pada saat berumur dua tahun ketika tiba waktunya toilet training. Insiden kembali memuncak pada umur remaja ketika anak menjadi lebih bebas di luar dan keterlibatan dengan perilaku beresiko seperti alkohol, penyalahgunaan obat-obatan, penggunanaan senjata, dan kekerasan antar geng.


Menurut hubungan dengan korban, secara umum pelaku pembunuhan anak dibagi menjadi intrafamilial dan extrafamilial.


Intrafamilial diartikan sebagai orang tua biologis, orang tua angkat ataupun orang tua tiri.


Jason (1983) mengusulkan dua pola pada pembunuhan anak, intrafamilial biasanya didominasi korban yang berumur dan kemungkinan dijelaskan sebagai fatal child abuse. Meskipun pelaku pembunuhan extrafamilial jarang terjadi dan biasnya hanya dilakukan oleh pelaku laki-laki, korban pembunuhan didominasi anak berumur lebidan dijelaskan sebagai fatal parental-societal neglect. Pembunuhan yang terjadi pada umur diantara 3 dan 12 tahun biasanya dilakukan oleh salah satu dari keduanya (mixture).





Beberapa peraturan yang mengaturnya adalah :




KUHP (Penal Code)
BUKU KEDUA - KEJAHATAN
BAB XIX
KEJAHATAN TERHADAP NYAWA



Pasal 338


Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.


Pasal 339


Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.


Pasal 340


Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana rnati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.


Pasal 341


Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.


Pasal 342


Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama semhi- lan tahun.


Pasal 343


Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang bagi orang lain yang turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan anak dengan rencana.


Pasal 344


Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.


Pasal 345


Barang siapa sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri, menolongnya dalam perbuatan itu atau memberi sarana kepadanya untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun kalau orang itu jadi bunuh diri.


Pasal 346


Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.


Pasal 347


(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.


(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.


Pasal 348


(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.


(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.


Pasal 349


Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.


Pasal 350


Dalam hal pemidanaan karena pembunuhan, karena pembunuhan dengan rencana, atau karena salah satu kejahatan berdasarkan Pasal 344, 347 dan 348, dapat dijatuhkan pencabutan hak berdasarkan pasal 35 No. 1- 5.


Sumber : segala sumber
Read More yuuk...

Template by:

Free Blog Templates